"Relakanlah aku..."
Itu adalah kata-kata terakhirmu yang masih terus menggema di telingaku. Dan kini, aku bersedih karena harus merelakanmu.
Kamu tahu? Lebih baik aku merelakanmu di tanah merah, lebih baik aku menangisi pusaramu.
Tapi kenyataannya aku harus merelakanmu di tempat yang begitu gemerlap, tempat yang penuh lampu benderang, yang penuh dengan senyum manusia-manusia yang tidak tahu betapa sakitnya hatiku.
Dia yang jadi pilihan orang tuamu, bukan aku. Kamu mau tak mau harus memilih dia, itu katamu. Tapi aku tak percaya, karena aku sangat mengenal kamu, sangat mengenal wajahmu, dan wajah yang ada di atas sana saat ini begitu terang oleh sinar kebahagiaan yang tak dipaksakan. Aku sempat berharap kamu sudah menjadi aktor yang begitu hebat sampai-sampai aku tak melihat setitik pun rasa bersalah di wajahmu.
Semakin aku mendekati tempatmu berada, semakin aku menerawang jauh. Suara-suara ricuh manusia yang bergembira untukmu tidak menggangguku memikirkan masa dulu, masa-masa kamu dan aku..dan juga dia.
Dia bukan cerita baru, sudah lama dia hadir diantara kita, dan kamu selalu membiarkan dia menjadi pengganggu. Sampai akhirnya, kamu kini membiarkan dia menjadi istrimu. Aku tidak bodoh, aku tahu semua hal tentang keputusan orang tuamu itu hanya kedok belaka, hanya kebohonganmu untuk bisa bersama dengannya tanpa harus merasa bersalah.
Aku mulai memandang sekelilingku dan berpikir untuk apa aku datang ke tempat ini? Lebih baik aku bersama bantal kesayanganku yang telah menyerap berliter-liter air mataku, daripada berada disini melihat kamu bahagia dengannya.
Ah, lihatlah.. Kamu bahkan memberikan senyum terbaikmu untuk dia. Senyum yang harusnya untukku, kalau saja kamu mau berjuang untuk bersamaku...
Kalau saja...
Di tengah rasa sesak tiba-tiba aku tersentak, tersadar oleh sesuatu, dan seketika merasa sangat bodoh.
Kenapa aku membiarkan air mataku tumpah di saat kamu berbahagia dan tersenyum bersamanya?
Kenapa aku menangisi orang seperti kamu? Orang yang telah meninggalkan aku begitu saja! Orang yang menggunakan orang tua sebagai tameng seribu alasan! Orang yang sama sekali tidak mau berjuang untuk aku!
Untuk apa aku menangisi seorang pengecut seperti kamu?
Mataku kini terbuka lebar, aku mulai menikmati tempat gemerlap ini. Aku melangkah maju, sedikit senyum tersungging di bibirku.
Aku mendekati pelaminanmu, tempatmu bersanding dengan dia. Semakin mendekatimu senyumku semakin melebar, seakan jiwaku semakin terbebas dari belenggu. Aku ingin bertemu denganmu dan dia, memberikan ucapan selamat dengan setulus hatiku. Dan aku tak mungkin lupa berterima kasih kepada orang tuamu, karena berkat mereka semua, aku tak terjebak bersama seorang pengecut seumur hidupku.
(Inspired by a song written by Glenn Fredly: "Biar Kini Ku Dengannya")
Bandung, 5 Oktober 2009